Loading...

Fenomena Misteri Dan Mitos Satrio Piningit Simbol Kebangkitan Nusantara

Bagi anda yang menyukai dunia spiritual dan mitos-mitos di bumi nusantara ini tentunya mengenal banyaknya mitos, legenda dan cerita rakyat di masyarakat. Bahkan banyak mitos-mitos yang diceritakan secara turun temurun. Salah satunya adalah mengenai fenomena misteri dan juga mitos perihal Satrio Piningit sebuah simbol pembawa kebangkitan Nusantara Indonesia menuju kemakmuran. Mitos ini cukup melekat di hati masyarakat Indonesia. Siapakah dia? Kapankah dia muncul? Kisah Satrio Piningit ini sepertinya membawa harapan ditengah perekonomian Indonesia yang semakin menurun.

Fenomena Misteri Dan Mitos Satrio Piningit Simbol Kebangkitan Nusantara

Siapakah Satrio Piningit Tersebut?

Misteri Dan kemunculan Satrio Piningit tak pernah pupus dari benak dan relung hati anak cucu leluhur Nusantara. Fenomena sejak masa kewalian pasca kehancuran Majapahit ini sangat lekat terutama bagi anak cucu Jawa – Bali Dwipa.

Menurut Tri Budi Marhaen Darmawan salah seorang pakar spiritual menyatakan bahwa perjalanan sejarah Nusantara telah menjadi saksi hidup tentang kemunculan Satrio Piningit di setiap perubahan masa yang telah diwasiatkan oleh para leluhur Nusantara ratusan tahun yang lalu.

Raden Patah (Jimbun) adalah sosok Satrio Piningit dukungan para wali utamanya Sunan Bonang yang menandai berdirinya Kerajaan Demak setelah mampu menghapuskan supremasi Kerajaan Majapahit.

Sultan Hadiwijoyo (Joko Tingkir) murid Sunan Giri merupakan Satrio Piningit pada masa berdirinya Kerajaan Pajang yang mengakhiri era Kerajaan Demak.

Panembahan Senopati (Sutowijoyo) murid Sunan Kalijaga juga merupakan Satrio Piningit pada masa berdirinya Kerajaan Mataram menggantikan eksistensi Pajang.

Dari beberapa peristiwa bersejarah tersebut mengandung makna yang tersirat bahwa kemunculan Satrio Piningit selalu berada pada pergantian ”masa besar” Nusantara dimana senantiasa tidak meninggalkan peran seorang wali (aulia).

Satrio Piningit Nerdasarkan Tafsiran Ramalan Jayabaya

Menurut kitab Musarar Jayabaya era sekarang masuk jaman Kalabendu (jaman sengsara), disebut kalabendu (kutukan bumi) disebabkan dari pengaruh hawa kutukan bumi, biasnya perilaku manusia menjadi edan (gila) dan hidupnya sengsara “hidup di jaman edan kalau tidak edan tidak kebagian”.

Kitab Musarar - Satrio Piningit Nerdasarkan Tafsiran Ramalan Jayabaya

Pada masa-masa sulit di jaman edan (jaman kalabendu) ini, masyarakat nusantara mendambakan datangnya jaman kalisuba (jaman kemakmuran) yang ditandai datangnya sosok Satrio Piningit dan Ratu Adil sebagaimana yang ditulis pada bait-bait syair terakhir kitab Musarar Jayabaya, Uga Wangsit Siliwangi dan Ramalan Ronggowarsito.

Karya-karya leluhur nusantara antara satu dengan lainnya walaupun berbeda masa/periode yang jauh berselang, namun di dalam perlambangnya memiliki saling keterkaitan. Suatu perlambang dalam suatu karya menunjuk kepada perlambang atau karakter yang lain di dalam karya leluhur yang berbeda.

Masing-masing orang bisa saja menafsirkan yang berbeda-beda, tidak ada yang melarang. Bebas-bebas saja. Benar tidaknya kembali kepada diri kita masing-masing. Inilah tabir misteri menurut admin fenomenamisteri.com.

Satrio Piningit Tafsiran Wangsit Siliwangi :

Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. tapi memang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hese apes ku rogahala

(“Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan raja dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata, karena jelas keturunan raja penguasa baru susah dianiaya”).

Satrio Piningit Tafsiran Wangsit Siliwangi :

Inilah Soekarno, Presiden pertama NKRI, ibunda Soekarno adalah Ida Ayu Nyoman Rai seorang putri bangsawan Bali. Ayahnya seorang guru bernama Raden Soekeni Sosrodihardjo. Namun dari penelusuran secara spiritual, ayahanda Soekarno sebenarnya adalah Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono X. Nama kecil Soekarno adalah Raden Mas Malikul Koesno. Beliau termasuk “anak ciritan” dalam lingkaran kraton Solo.

Kitab Musarar Jayabaya, dalam Sinom bait 18 :

Dene jejuluke nata, Lung gadung rara nglikasi, Nuli salin gajah meta, Semune tengu lelaki, Sewidak warsa nuli, Ana dhawuhing bebendu, Kerem negaranira, Kuwur tataning negari, Duk semana pametune wong ing ndesa

(“Nama rajanya Lung Gadung Rara Nglikasi kemudian berganti Gajah Meta Semune Tengu Lelaki. Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan. Waktu itu pajak rakyat adalah …..”)

Lung Gadung Rara Nglikasi memiliki makna yaitu pemimpin yang penuh inisiatif (cerdas) namun memiliki kelemahan mudah tergoda wanita. Perlambang ini menunjuk kepada Presiden pertama RI, Soekarno. Sedangkan Gajah Meta Semune Tengu Lelaki bermakna pemimpin yang kuat karena disegani atau ditakuti, namun akhirnya terhina atau nista. Perlambang ini menunjuk kepada presiden kedua RI, Soeharto. Dalam bait ini juga dikatakan bahwa Negara selama 60 tahun menerima kutukan sehingga tidak ada kepastian hukum.

Dalam bait 20 dikatakan :

Bejade ingkang Negara, Narendra pisah lan abdi. Prabupati sowang-sowang, Samana ngalih nagari, Jaman Kutila genti, Kara murka ratunipun, Semana linambangan, Dene Maolana Ngali, Panji loro semune Pajang Mataram

(“Negara rusak, Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka. Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram”)

Bait ini menggambarkan situasi Negara yang kacau. Pemimpin jauh dari rakyat, dan dimulainya era baru dengan apa yang dinamakan otonomi daerah sebagai implikasi bergulirnya reformasi (Jaman Kutila). Karakter pemimpinnya saling jegal untuk saling menjatuhkan (Raja Kara Murka). Perlambang Panji Loro Semune Pajang – Mataram bermakna ada dua kekuatan pimpinan yang berseteru, yang satu dilambangkan dari trah Pajang (Joko Tingkir), dan yang lain dilambangkan dari trah Mataram (Pakubuwono), hal ini menunjuk kepada era Gus Dur dan Megawati.

Pada bait 22, dikatakan :

Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih,Lajengipun sinung lambang, Dene Maolana Ngali, Samsujen Sang-a Yogi, Tekane Sang Kala Bendu, Ing Semarang Tembayat, Poma den samya ngrawuhi, Sasmitane lambang kang kocap punika

(“Tan Kober Paes Sarira, Sinjang Kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu, Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut”)

Perlambang Tan Kober Paes Sarira, Sinjang Kemben tan Tinolih bermakna pemimpin yang tidak sempat mengatur negara karena direpotkan dengan berbagai masalah, ini menunjuk kepada Presiden RI keenam saat ini yaitu Susilo Bambang Yudhoyono. Meskipun Begitu SBY berhasil mempertahankan Indonesia dari keterpurukan ekonomi .

Selanjutnya Di era Pemerintahan Joko Widodo bisa kita saksikan sekarang perekonomian dalam titik terendah, daya beli masyarakat menurun drastis. Kurs dollar tertinggi dalam sejarah Indonesia. Para petinggi negeri saling melempar tanggung jawab. Subsisi BBM, listrik dicabut, BBM naik belasan kali. Di masa ini benar-benar puncaknya kala bendu. Selain itu fitnah merajalela. Hutang negara membengkak luar biasa.

Kemudian bait 27 berbunyi :

Dene besuk nuli ana, Tekane kang Tunjung Putih, Semune Pudhak Kasungsang, Bumi Mekah dennya lair, Iku kang angratoni, Jagad kabeh ingkang mengku. Juluk Ratu Amisan. Sirep musibating bumi, Wong nakoda milu manjing ing samuwan

(“Kemudian kelak akan datang Tanjung Putih Semune Pudak Kasungsang. Lahir di bumi Mekah. Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan”)

Perlambang Tanjung Putih Semune Pudak Kasungsang memiliki makna seorang pemimpin yang masih tersembunyi berhati suci dan bersih. Inilah seorang pemimpin yang dikenal banyak orang dengan nama Ratu Adil sebagai pemimpin yang membawa amanat untuk membenahi kerusakan dahsyat bumi nusantara akibat bencana kemanusiaan dan bencana alam. Lahir di bumi Mekah merupakan perlambang bahwa pemimpin tersebut adalah seorang Islam sejati yang memiliki tingkat ketauhidan yang sangat tinggi.

Bait 28 tertulis :

Prabu tusing Waliyullah, Kadhatone pan kekalih, Ing Mekah ingkang satunggal, Tanah Jawi kang sawiji, Prenahe iku kaki, Perak lan Gunung Perahu, Sakulone tempuran, Balane samya jrih asih, Iya iku ratu rinenggeng sajagad

(“Raja utusan waliyullah. berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa. Letaknya dekat dengan Gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia”)

Prediksi saya tentang bait tersebut, yang dimaksud dengan hasil didikan/tempaan seorang waliyullah (aulia) yang juga selalu tersembunyi berkedaton di Mekah dan Tanah Jawa adalah 2 (dua) waliyullah tersembunyi (menitis) di dalam dirinya (“sawiji”); yang satu seorang aulia dari Mekah dan yang satunya lagi seorang raja Jawa. Orang yang dimaksud merupakan Islam sejati, sudah makom Ma’rifat Mukasyafah, serta berciri khusus terdapat andheng-andheng (tahi lalat) segi tiga yang jelas sangat kelihatan (“dingklik”) “sanalika iku wong Jawa akeh kang tesmak bathok, senajan mlorok ora ndelok, andheng-andheng dingklik”. Pemimpin tersebut akan mampu memimpin nusantara ini dengan baik, adil dan membawa kepada kesejahteraan rakyat, serta menjadikan nusantara sebagai “barometer dunia” (istilah Bung Karno : “Negara mercusuar”).
Baca Juga : Isi Ramalan Jayabaya Makin Terbukti Benar Saat ini
Penutup
Bebicara mengenai misteri Satrio Piningit memang tidak ada habisnya. Banyak sekali penafsiran-penafsiran berdasarkan kepercayaan di setiap agama, daerah ataupun praktisi spiritual. Mitos mengenai Satrio Piningit ini semoga saja menjadi kenyataan pada pemerintahan Indonesia berikutnya di tahun 2019 dan seterusnya. Siapapun itu orangnya semoga adalah Satrio Piningit yang kita nantikan. Seseorang yang mampu membawa perubahan, membawa ketentraman dan kemakmuran bagi seluruh rakyat di Indonesia.

Referensi :
wikipedia
http://sang-rusa.blogspot.com
https://mataram351.wordpress.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Loading...